Di salah satu grup Whatsapp komunitas, kami membahas tentang kepedulian lingkungan. Salah satunya adalah gerakan keramas atau mencuci rambut dengan metode no-poo shampoo. Seperti kita ketahui selama ini kalau mandi, mencuci rambut, bahkan mencuci apapun, semakin berbusa, rasanya semakin bersih. Padahal untuk menghasilkan busa itu ternyata menggunakan bahan-bahan kimia yang tidak baik untuk kesehatan. Di sisi lain, residu atau sisa buangan semua bahan berbusa ini akan berakhir di pembuangan air dan mencemari lingkungan.
Bahan Dasar Sampo
Shampoo atau sampo, adalah produk yang kita gunakan sehari-hari untuk membersihkan rambut, terbuat dari berbagai macam bahan kimia dan alami. Masing-masing bahan memiliki fungsi yang berbeda-beda, mulai dari membersihkan hingga memberikan nutrisi pada rambut.
Sebetulnya zaman dulu Eyang Putri suka cerita beliau kalau keramas memakai abu merang, malah beliau rambutnya panjang dan tebal. Tapi ya ribet sih mencari merang (bekas tangkai padi yg sudah kering) hari gini dapet dari mana pula…
Akibat modernisasi, kita lebih memilih memakai sampo yang dapat diperoleh dengan harga terjangkau, dari berbagai brand, dan untuk berbagai kondisi rambut serta kulit kepala. Bahkan untuk bayi dan anak-anak pun tersedia rangkaian produk sampo yang tidak membuat pedih di mata.
Belum lagi gempuran iklan sampo yang menawarkan rambut hitam, bebas ketombe, mudah disisir, lembut, dan berbagai kata-kata persuasi lainnya.
Sampo sintetis diperkenalkan pada tahun 1930-an. Keramas setiap hari menjadi norma di AS pada tahun 1970-an dan 1980-an, tetapi mencuci rambut ditentukan oleh norma budaya dan preferensi individu. Ada orang yang mencuci setiap hari, beberapa dua minggu sekali, dan beberapa tidak sama sekali.
Tujuan dari sampo adalah untuk membersihkan rambut dan kulit kepala dengan cara mengangkat kotoran, minyak, dan sel kulit mati. Sebetulnya bukan untuk “mempercantik rambut”.
Adapun bahan dasar sampo mengandung surfaktan yang menghasilkan busa sehingga kalau mencuci rambut dirasa lebih efektif dan bersih.
Contoh surfaktan yang umum digunakan adalah sodium lauryl sulfate (SLS) dan sodium laureth sulfate (SLES).
Efek Samping SLS dan SLES
Menurut penelitian, SLS dan SLES ini menimbulkan efek samping terhadap kesehatan yaitu mengiritasi berupa kulit kering, gatal, dan kemerahan, terutama pada kulit sensitif.
Selain itu penggunaan jangka panjang dapat merusak lapisan pelindung kulit, membuatnya lebih rentan terhadap iritasi dan infeksi.
Bila terkena mata, SLS dan SLES juga dapat menyebabkan iritasi yang parah.
Pada beberapa orang mungkin mengalami reaksi alergi terhadap SLS dan SLES, seperti eksim atau dermatitis kontak.
Efek samping lainnya berdampak pada lingkungan karena SLS dan SLES sulit terurai di alam dan dapat mencemari lingkungan.
Mengenal Metode No Poo Shampoo
Mencuci rambut tanpa sampo komersial, disebut juga no poo. Metode no poo shampoo termasuk mencuci rambut hanya dengan air atau mencuci rambut dengan produk nonkomersial, seperti soda kue dan cuka.
Para pemerhati lingkungan berpendapat bahwa sampo komersial merupakan pengeluaran yang tidak perlu dan mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya.
Dari berbagai studi pada orang yang keramas dan tidak keramas, ada pendapat bahwa dengan menghilangkan minyak alami (sebum) yang diproduksi oleh kulit kepala, sampo komersial menciptakan lingkaran setan justru meningkatkan produksi minyak alami. Akibatnya orang jadi keramas lebih sering. Untuk menghentikan lingkaran ini, memerlukan waktu hingga enam minggu sampai produksi sebum normal kembali.
Cara paling murni untuk menghindari sampo adalah dengan hanya menggunakan air untuk mencuci rambut. Atau, rambut dapat dicuci dengan soda kue, diikuti dengan pembilasan asam seperti cuka apel yang diencerkan. Minyak esensial dapat digunakan untuk memberikan aroma yang menyenangkan pada rambut.
Penutup
Mengutip dari Advances in Colloid and Interface Science, penggunaan SLS sampo yang berlebihan dapat mengganggu penghalang alami kulit dan bisa menyebabkan iritasi.
Tren no-poo sampo bukan berarti kita tidak keramas sama sekali dengan alasan demi menjaga lingkungan. Walau bagaimanapun kebersihan tetap nomor satu, bukan. Kita tetap keramas hanya saja menggunakan bahan-bahan alami yang tidak merusak dan mencemari lingkungan.
Sekarang dapat dijumpai produk sampo non SLS yang cocok untuk kulit kepala sensitif sehingga tidak menyebabkan iritasi. Bahan-bahan alami pada produk sampo non SLS antara lain lidah buaya, minyak kelapa, minyak zaitun, lerak, dan lain-lain.
Semoga bermanfaat.
Sumber:
https://en.wikipedia.org/wiki/Hair_washing_without_commercial_shampoo
Photo by Oleskandra Biliak: https://www.pexels.com/photo/hairdresser-washing-customer-hair-23349891/
