Home Garingan Anak Saya Gak Lolos Test SDIT, Tapi Gak Sedih

Anak Saya Gak Lolos Test SDIT, Tapi Gak Sedih

Menjelang tahun ajaran baru, biasanya para orang tua -terutama yang punya anak baru masuk SD, pusing mencari SD mana yang terbaik. Ada yang jauh-jauh hari sudah sudah memastikan sekolah, dengan memesan kursi (sistem indent) di sekolah tujuan. Ada pula yang santai, karena rumahnya dekat dengan SD negeri.

Saya termasuk orang tua tipe pertama. Mencarikan sekolah swasta terbaik, sudah pesan kursi (indent) dan dibayar lunas.

Pilihan saya adalah SDIT At-Taqwa Surabaya, dengan alasan yang mungkin sama dengan kebanyakan orang tua lain

  1. Anak diajarin ngaji
    2. Bukan sekolah Islam yang memaksakan ideologinya kepada murid. Ada lho SDIT yang ngajarin anak, menolak ini-itu karena “gak ada dalil”
    3. Dua keponakan saya juga sekolah disana, jadi “sekalian antar jemput”

Tapi takdir berkata lain, anak saya tidak lolos test/observasi untuk diterima di sekolah tersebut.

Saya menulis ini, karena tergelitik dengan orang tua yang cukup emosional karena buah hatinya tidak diterima di SDIT At-Taqwa.

Saya paham perasaan para wali murid yang anaknya tidak dapat diterima, karena saya juga pernah mengalaminya.

Pertama kali anak saya dinyatakan “kurang nilai observasi”, saya juga kecewa.

Saya menyekolahkan anak di TK yang sama, berharap nanti saat SD juga diterima pada sekolah yang sama, karena akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan dan cara belajar.

Apalagi bagi para wali murid yang punya anak lebih tua sekolah disana, pasti sangat repot bila nanti setiap pagi harus mengantar dua anaknya pada sekolah yang berbeda.

Kemarin ada wali murid dengan ekpresi cukup ketus bercerita “Ah…, anak sampean TK. Anakku sekolah dari PAUD di At-Taqwa, gak diterima”, masih dengan menahan emosi.

Mencoba Mengerti Anak.

Karena tidak lolos pada observasi pertama, pihak sekolah memberi kelonggaran dengan memberikan observasi/test kedua bulan berikutnya.

Mereka meminta agar anak lebih dipersiapkan lagi, pada nilai-nilai yang kurang (misal pada anak saya, doa harian, surat pendek dan konsentrasi).

Setelah itu, saya setiap hari melatih dengan surat-surat pendek.

Dua minggu sebelum observasi kedua, anak saya ogah-ogahan menghafal surat pendek, bahkan yang sebelumnya lancar, malah jadi salah.

Karena itu saya jengkel dan menjadi marah, karena dia belum juga hafal dan malah kacau pada surat yang sebelumnya well-well saja.

Setelah marah, saya merasa bersalah dan berperfikir “Mengapa harus marah?, mengapa harus At-Taqwa?, Apa At-Taqwa menentukan takdir? Yang mau sekolah di At-Taqwa saya atau anak?”

Saya mencoba memahami, mengingat capaian-capaian yang diraih, berkesimpulan, “anak saya bukan anak yang bodoh”.

Dia bisa membaca, menulis, berhitung, bahkan juga bisa membaca 3 huruf arab yang telah disambung, dan guru TKnya pun pernah berkata “Dia anak pintar, cuma konsentrasi saja yang kurang”

Setelah direnungkan dan berbagai pertimbangan, “Mungkin memang anak saya kurang cocok dengan SDIT”. Karena SDIT, pasti nanti dia akan sering bertemu dengan hafalan-hafalan surat, hadist dan bahasa arab yang tidak disukainya.

Karena tidak suka, pasti berpengaruh dengan pelajaran yang lain. Bisa saja dia minder karena gak hafal Al-Kafirun, lalu merasa bodoh, pelajaran lain ikut terganggu dan akhirnya menjadi tidak suka sekolah.

Saya juga termasuk orang tua yang gak bangga-bangga amat dengan hafalan al Quran, cukup bisa membaca bagi saya sudah cukup.

Ada juga faktor lain, yang pasti akan menghambat proses observasi yang kedua.

Gangguan Spektrum Autisme-ASD

Anak saya punya ASD, tapi gak usah berfikir kondisinya kayak di film atau sinetron TV. Autis itu luas (spektrum), kayak batuk. Ada batuk yang terus menerus, batuk ringan, batuk karena alergi dan berbagai penyebabnya.

Anak saya ASD ringan, sepintas biasa saja kayak anak pada umumnya, namun bila diajak berbicara, akan terasa berbeda dengan anak sebayanya.

Tingkah pola, cara merespon, menjawab, bahasa, terasa kaku, tidak berimbang, fals (jika orang bermusik).

Untuk tingkah polah,dahulu sangat-sangat-sangat aktif (tapi belum masuk ke hyperaktif) kini jauh lebih baik, bisa duduk bersila (anak dengan ASD biasa duduk dengan posisi huruf W), jarang melompat-lompat.

Kata guru TK, anak saya tidak pernah bisa mengikuti pelajaran klasikal (murid duduk mendengarkan guru yang menerangkan), baru dua bulan terahir dia bisa duduk bersila.

Kini dia masih terapi bina bicara di Pusat Layanan Autis (PLA) UNESA.

Cara berfikirnya pun juga berbeda, dia sangat polos, linear dalam mengartikan sesuatu. Misal: Dia akan berfikir begitu serius jika mendengar lagu naik delman saat lirik “Naik delman istimewa ku duduk di muka”, bagaimana orang bisa duduk di muka?

Atau pernah suatu hari menjumpai pertanyaan di buku, “Berapa jumlah burung pada gambar diatas?” dia menjawab NOL, padahal terlihat jelas gambar burung dan dia tahu jumlahnya.

Lalu mengapa dia menjawab NOL? karena dia benar-benar mencari “gambar burung” diatas (sambil melihat keatas) bukan di buku.

Dengan segala pertimbangan, saya menentukan sikap “jika gak diterima silakan, diterima juga gak senang”.

Jadi saat tahu anak saya tidak diterima di SDIT At-Taqwa, tidak ada perasaan kecewa.

Dan jikapun diterima, tidak akan merasa senang, semua sudah datar-datar saja, bagi saya semua sudah selesai sejak dua minggu sebelum observasi kedua.

Bahkan saat itu, para guru yang menyampaikan “ananda tidak diterima” dari raut muka mereka, terbaca sedang kaget. Ketika saya bilang “ya gak papa, saya sudah tahu”, sambil senyam-senyum.

Untuk memastikan dugaan, saya bertanya kepada para guru yang melakukan observasi “Dia gak mau baca doa ya?”, mereka mengangguk (seperti takut, mungkin ada wali sebelumnya yang marah-marah)

Persis seperti perkiraan saya sebelumnya. Jadi:

  • Jika ingin menguji doa sebelum makan, maka sediakan makanan dahulu. Karena anak saya tidak akan mau, membaca “doa sebelum makan” tanpa makan.
  • Jika ingin menguji doa sebelum tidur, pasti tidak mau. Karena dia memang tidak mau tidur, seperti saat dirumah dia cuma mau baca doa sebelum tidur, tepat sebelum tidur.
  • Jika ingin menguji doa masuk WC, caranya harus menyuruh dia pipis dulu,lalu saat depan WC suruh dia berdoa.

Jadi memang seperti itulah, semua berjalan seperti yang diperkirakan.

Lalu sekolah dimana?

Yang pasti bukan SDIT dan melihat kondisi anak, bukan juga sekolah negeri. Saya memilih LAB SCHOOL Unesa, pertimbangannya (lagi-lagi) dekat rumah, kurikulum nasional, siswa perkelas juga dibatasi (maksimal??? saya juga lupa)

Di LAB SCHOOL, dia cuma diminta menulis nama, sedikit mewarna, mengenal angka dan disuruh melempar bola sesuai dengan warna yang diminta penguji.

Lain kali akan saya tulis mengenai kurikulum Lab School unesa, sesuai ingatan ketika memberikan paparan kurikulum.

TAG

1 COMMENT

Leave a Reply