Home Sains Sejarah Kalender Jawa

Sejarah Kalender Jawa

sejarah-kalender-jawa

Semua dari kita pasti sudah paham dengan kalender, bagaimana caranya bekerja, untuk tujuan apa dan tahu juga seberapa pentingnya kalender.

Kalender yang begitu penting, memiliki sejarah panjang dan rumit.

Bagaimana manusia menghitung pergantian hari, membaginya dalam minggu, bulan dan tahun.

Karena kerumitan kalender, maka hanya sedikit saja dari bangsa yang bisa meramu perhitungan hari dalam sebuah kalender. Tentu saja bangsa ini adalah termasuk bangsa yang punya peradapan maju.

Dengan memiliki sistem kalender, masyarakat tersebut memiliki perencanaan yang lebih teratur dan terorganisasi.

Pada awalnya sistem kalender digunakan untuk menghitung waktu perencanaan masa menanam, dan kegiatan keagamaan.

Tidak semua suku bangsa di dunia, bahkan sangat sedikit yang memiliki kalender sendiri, dan Jawa termasuk di antara yang sedikit itu.

Kalender Jawa diciptakan oleh mPu Hubayun, pada tahun 911 Sebelum Masehi.

Pada tahun 50 SM Raja/ Prabu Sri Mahapunggung I (juga dikenal sebagai Ki Ajar Padang I) melakukan perubahan terhadap huruf/ aksara, serta sastra Jawa.

Bila kalender Jawa dibuat berdasarkan‘Sangkan Paraning Bawana‘ (=asal usul/ isi semesta), maka aksara Jawa dibuat berdasarkan “Sangkan Paraning Dumadi” (=asal usul kehidupan), serta mengikuti peredaran matahari (=Solar System).

Pada 21 Juni 0078 Masehi, Prabu Ajisaka mengadakan perubahan terhadap budaya Jawa, yaitu dengan memulai perhitungan dari angka nol (‘Das’=0), menyerap angka 0 dari India, sehingga pada tanggal tersebut dimulai pula kalender Jawa ‘baru’, tanggal 1 Badrawana tahun Sri Harsa, Windu Kuntara ( = tanggal 1, bulan 1, tahun 1, windu 1), hari Radite Kasih (-Minggu Kliwon), bersamaan dengan tanggal 21 Juni tahun 78 M.

Selama ini, banyak pendapat yang mengatakan, bahwa Prabu Ajisaka ialah orang India/ Hindustan. Akan tetapi hal tersebut nampaknya kurang tepat, dengan fakta-fakta kisah dalam huruf Jawa, bahwa :

  1. Pusaka Ajisaka yang dititipkan kepada pembantunya berujud keris. Tak ditemukan bukti-bukti peninggalan keris di India, dan keris adalah asli Jawa.
  2. Para pembantu setia Ajisaka sebanyak 4 (empat) orang (bukan 2 orang seperti yang banyak dikisahkan), dengan nama berasal dari bahasa Kawi yaitu:
    • DURA , yang dalam bahasa Kawi berarti anasir alam berupa AIR artinya = ‘bohong’, sangat jauh berrbeda dengan aslinya.
    • SAMBADHA , yang dalam Bahasa Kawi berarti anasir alam yang berupa API artinya “mampu” atau ‘sesuai’.
    • DUGA , dalam bahasa Jawa Kuna berarti anasir TANAH, namun bila dibaca dengan cara kini, akan berarti “pengati-ati’ atau ‘adab’.
    • PRAYUGA , dalam Bahasa Jawa Kuna artinya adalah “ANGIN“, dan bila dibaca dengan cara sekarang akan berarti ‘sebaiknya/ seyogyanya”.
    • Keempat unsur/ anasir tersebut adalah yang ada di alam semesta (makrokosmos / bawana ageng) serta dalam tubuh manusia (mikrokosmos / bawana alit).
  3. Nama Ajisaka ( Aji & Saka) adalah berasal dari Bahasa Jawa Kuna, yang berarti Raja/ Aji yang Saka (= mengerti & memiliki kemampuan spiritual), Raja Pandita, Pemimpin Spiritual. Prabu Ajisaka juga bernama Prabu Sri Mahapunggung III, Ki Ajar Padang III, Prabu Jaka Sangkala, Widayaka, Sindhula. Petilasannya adalah api abadi di Mrapen, Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah.

sultan-agung-dalam-sejarah-kalender-jawa

Pada saat Sultan Agung Anyakrakusuma bertahta di Mataram abad XVI Masehi, terdapat 3 unsur kalender budaya dominan, yaitu Jawa/ Kabudhan (solar system), Hindu (solar system), dan Islam (Hijriah, Lunar Sytem), sementara di wilayah Barat/ Sunda Kelapa dan sekitarnya sudah mulai dikuasai bangsa asing / Belanda.

Untuk memperkuat persatuan di wilayah Mataram guna melawan bangsa asing, Sultan Agung melakukan penyatuan kalender yang digunakan.

Akan tetapi penyatuan kalender Jawa /Saka dan Islam/Hijriah tersebut tetap menyisakan selisih 1 (satu) hari, sehingga terdapat 2 perhitungan, yaitu istilah tahun Aboge (tahun Alip, tgl 1 Suro jatuh hari Rebo Wage), serta istilah Asapon (Tahun Alip, tg 1 Suro, hari Selasa Pon).

Perubahan ini bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriah, 29 Besar 1554 Saka, 8 Juli 1633 Masehi. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan Suro tahun 1554 Jawa (Sultan Agungan) yang digunakan sekarang.

Apabila ditilik berdasarkan penanggalan Jawa yang diciptakan mPu Hubayun pada 911 SM, maka saat ini (2013) adalah tahun 2924 Jawa (asli, bukan Saka, Jawa kini, atau Hijriah).

Sebuah Kalender asli yang dibuat tidak berdasarkan agama, atau aliran kepercayaan apapun.

Dengan demikian, tinggal sedikit lagi untuk menemukan bukti-bukti arkeologi autentik lainnya.

Setelah ditemukan lempeng tanah persawahan yang diperkirakan berumur 6000 tahun lebih di kedalaman laut Jawa, maka penemuan kalender yang telah berumur 15 ribu tahun itu bisa jadi memang berasal dari peradaban Nusantara.

Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya dan yang mendapat pengaruhnya.

Penanggalan ini memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang merupakan bagian budaya Barat.

Sistem kalender Jawa memakai dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad sampai Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran.

Pada tahun 1625 Masehi (1547 Saka), Sultan Agung dari Mataram berusaha keras menanamkan agama Islam di Jawa.

Salah satu upayanya adalah mengeluarkan dekret yang mengganti penanggalan Saka yang berbasis perputaran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar (berbasis perputaran bulan).

Uniknya, angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriyah (saat itu 1035 H).

Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Dekret Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan).

Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung.

Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung

Kalender dalam penanggalan Jawa diketahui berbeda dengan Masehi.

ika dicermati ada beberapa perbedaan mendasar antara dua cara penghitungan kalender tersebut. Apakah perbedaan itu?

  1. Penanggalan Jawa dihitung berdasarkan putaran bulan terhadap bumi, penanggalan Masehi dihitung berdasarkan putaran bumi terhadap matahari.
  2. Selisih tahun Jawa dan Masehi 67 tahun. Jika tahun Jawa 1943 maka Masehi 2010, selisih ini terjadi karena adanya perbedaan jumlah hari per bulannya.
  3. Jumlah hari dalam kalender Jawa 29 dan 30, sedangkan Jumlah hari tahun Masehi antara 30 dan 31 kecuali pada bulan Februari hanya 28 hari.
  4. Jumlah hari dalam satu tahun kalender tahun Jawa 354 – 355 hari, jumlah hari dalam satu tahun kalender Masehi 365 – 366 hari.
  5. Kalender Jawa mengitung 1 pasaran 5 hari (Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon), sedang kalender Masehi menghitung 1 minggu 7 hari (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu).
  6. Pergantian hari pada tahun Jawa pada waktu petang atau saat Magrib, pergantian hari pada tahun Masehi mulai pukul 24.00 (12 malam)

Masyarakat nusantara, terutama yang masih dalam pengaruh Jawa kuno (hingga filipina, thailand, malaysia). Masih banyak yang menggunakan perhitungan (mirip) weton, seperti yang terjadi di Indonesia.

Upacara keagamaan, mencari hari baik, perhitungan perjodohan berdasarkan hari pasaran atau weton berdasarkan kalender jawa.

Kini banyak tersedia aplikasi untuk menampilkan kalender jawa, menghitung weton, hingga nujum mengenai perjodohan berdasarkan perhitungan weton.

Anda bisa mendownloadnya di sini

download-apk

Leave a Reply