Baru-baru ini ramai polemik tentang pernyataan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, dalam kegiatan Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Universitas Udayana, Bali, Sabtu (25/42026). Badri menegaskan bahwa keberadaan jurusan perkuliahan sebaiknya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dunia di masa depan. Hal ini tentu saja membuat orang tua maupun calon mahasiswa ketar-ketir. Benarkah kita harus memilih jurusan kuliah yang cocok dengan dunia industri?
Tentang Overpopulasi Lulusan Perguruan Tinggi
Pernyataan Sekjen KemenDikti, Sains, dan Teknologi ini mungkin ada benarnya, perlu kajian ulang tentang keberadaan program studi (prodi) atau jurusan di sebuah perguruan tinggi.
Lagi-lagi, masih menurut Badri, oversupply lulusan terdapat pada prodi kependidikan dan kedokteran. Menurutnya, prodi kependidikan menghasilkan 490 ribu lulusan per tahun, sedangkan lowongan calon guru dan fasilitator taman kanak-kanak hanya 20 ribu. Jadi ada 470 ribu lulusan dari prodi kependidikan yang tidak punya pekerjaan.
Begitu pula di bidang kedokteran, kemungkinan per tahun 2028 akan ada oversupply jumlah dokter.
Menilik yang terjadi di lapangan, tentang sulitnya mencari pekerjaan, tingginya persaingan, dan lapangan pekerjaan yang dijanjikan salah satu kontestan zaman pemilihan umum. Bukan hanya dua jurusan kuliah, kependidikan dan kedokteran saja yang kesulitan lapangan pekerjaan.
Banyak faktor lain yang menyebabkan lulusan perguruan tinggi kesulitan mendapatkan pekerjaan. Bisa saja memang alumninya yang tidak mengupgrade skill untuk menghadapi tantangan di dunia kerja.
Memilih Jurusan Kuliah
Perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta, memang berlomba-lomba membuka jurusan kuliah yang sedang tren. Di satu sisi, orang tua sebagai penyandang dana bagi anaknya, tentunya berpikir keras ketika anaknya memilih jurusan kuliah. Dua belah pihak sama-sama berpikir panjang: nantinya, kalau sudah lulus, apa profesinya, apa yang akan didapatkan atau pekerjaannya nanti seperti apa?
Dari Sisi Perguruan Tinggi
Saya dulu mengajar di perguruan tinggi swasta. Sama halnya dengan hampir semua perguruan tinggi swasta, income terbesar adalah dari SPP mahasiswa.
Maka banyak perguruan tinggi yang membuka prodi sesuai dengan tren di masyarakat dan arah kebutuhan pangsa pasar di masa depan.
Beberapa tahun terakhir, ramai dibuka prodi Desain Komunikasi Visual karena tren masyarakat akan produk animasi, iklan, film, dan konten digital. Berbagai film indie dengan mudah diproduksi, kemudian ditayangkan di bioskop atau cinema.
Salah seorang teman blogger Rafahlevi merupakan blogger film Bandung yang tentunya salah satu kategori blognya adalah mereview film-film yang tayang di cinema Bandung. Ilmu peran, dunia teater, cinematografi, desain komunikasi visual, dan digital marketing tentunya memegang peranan dalam industri hiburan ini.
Akhir-akhir ini banyak perguruan tinggi yang membuka Fakultas Kedokteran, bahkan yang asalnya adalah institut teknologi, bukan universitas. Contohnya, Universitas IPB, dulu adalah Institut Pertanian Bogor, telah membuka Fakultas Kedokteran. Begitu pula UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), yang dulu adalah IKIP Bandung, juga telah membuka Fakultas Kedokteran.
Kecenderungan membuka program studi cenderung lebih diukur bergantung pada kontribusinya pada pasar kerja atau pertumbuhan ekonomi, bukan pada kontribusinya terhadap kehidupan sosial, kebudayaan, demokrasi, maupun pemecahan persoalan publik jangka panjang.
Perguruan tinggi pun memperhitungkan upaya agar mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin melalui program studi baru ini. Caranya melalui penerimaan mahasiswa sebanyak-banyaknya, sehingga dalam beberapa tahun terjadi overpopulasi lulusan.
Dari Sisi Orang Tua dan Mahasiswa
Orang tua memegang peranan penting ketika anaknya memilih jurusan kuliah. Ada yang mengizinkan anaknya memilih program studi sesuai minat dan bakat, dan sanggup membiayai hingga lulus kuliah.
Di sisi lain, hampir sebagian besar orang tua akan berpikir dari sudut pandang ekonomi. Apakah biaya yang dikeluarkan akan sepadan dengan masa depan si anak? Worthed ga sih? Bila nanti lulus, mudah mencari pekerjaan atau tidak?
Apalagi bagi orang tua, jarang sekali yang mempunyai mindset, anaknya nanti justru yang menciptakan lapangan pekerjaan. Hampir semua orang tua mempunyai pemikiran, anaknya menjadi bagian dari jutaan pencari kerja.
Beberapa peluang beasiswa pun ditawarkan pada program studi yang sedikit peminatnya. Sehingga tidak sedikit calon mahasiswa, memilih jurusan kuliah, yang pokoknya asal kuliah. Akhirnya, ketika lulus, penyandang gelar S1 ini menjadi penganggur intelektual.
Penutup
Pernyataan Kemdiktisaintek tentang prodi yang harus sesuai dengan arah kebutuhan ekonomi masa depan menunjukkan cara kerja logika yang hanya melihat kebutuhan industri.
Ketika logika bisnis menjadi acuan utama tata kelola kampus, fungsi pendidikan sebagai ruang kritik, pengetahuan publik, dan kepentingan sosial yang lebih luas kerap terpinggirkan.
Masalahnya bukan hanya kemungkinan penutupan prodi tertentu, tetapi asumsi bahwa pasar menjadi ukuran utama relevansi pengetahuan. Di titik ini, universitas berisiko diperlakukan layaknya perusahaan, sementara pendidikan dipahami sebagai investasi ekonomi.
Oleh sebab itu, sebetulnya pemerintah harus melakukan kolaborasi dengan bermacam pihak: perguruan tinggi, industri, hingga masyarakat. Jadi, sebetulnya calon mahasiswa ketika memilih jurusan kuliah, bukan menjadi “lulusan yang hanya siap bekerja”, melainkan “menciptakan pekerjaan, membangun inovasi, dan menjawab tantangan bangsa”.
