You are currently viewing Terkoneksi Dengan Diri Sendiri Di Usia Paruh Baya

Terkoneksi Dengan Diri Sendiri Di Usia Paruh Baya

Tema OWOP, one week one post grup WhatsApp yang digagas Mbak Annie Berta kali ini adalah bagaimana cara terkoneksi dengan diri sendiri.

Wah…apa ya? Masih bingung apa yang dimaksud dengan istilah ini.

Dari ringkasan AI di Google, terkoneksi dengan diri sendiri bermakna proses sadar untuk selaras dengan pikiran, perasaan, emosi, dan kebutuhan batin, yang meningkatkan kesadaran diri (self-awareness) serta kesehatan mental.

Ini melibatkan praktik self-love, refleksi diri, berani berkata “tidak”, merawat tubuh, dan menerima kelebihan maupun kekurangan diri untuk hidup lebih otentik.

Ketika Kamu Tidak Punya Waktu

Ketika saya menelusuri dan membaca artikel teman-teman blogger, saya menyimak bahwa sebagian besar mereka sibuk sebagai ibu rumah tangga, perempuan bekerja, atau freelancer. Menjalani semua itu, keluhan utama mereka adalah tidak punya waktu karena dalam 24 jam habis mengurus keluarga atau pekerjaan, sehingga tidak sempat memerhatikan diri sendiri.

Banyak juga di antara mereka masih mempunyai putra-putri balita dan usia sekolah, betul-betul pakepuk deh mengurus semuanya sendiri.
Boro-boro terkoneksi dengan diri sendiri, kan…

Saya ingat betul kata-kata salah seorang ustadz di sebuah majlis taklim. Sama kasusnya dengan kesibukan para ibu masa kini, keluhannya adalah tidak punya waktu untuk memperdalam tahsin Al Quran.

Sang Ustadz hanya berkata:”Kita tidak punya waktu luang atau tidak meluangkan waktu?”

Tidak punya waktu luang, lebih berarti 24 jam waktu yang ada tiap hari, betul-betul habis.
Sedangkan, meluangkan waktu, lebih bermakna, kita yang menyisihkan beberapa menit atau jam dari 24 jam, untuk sesuatu khusus yang diniatkan.

Dalam konteks waktu itu saya ikut tahsin, tentu saja, meluangkan waktu untuk mengulang bacaan Al Quran dengan benar.
Menyimak kata Ustadz pada waktu itu rasanya seperti tertampar.
Iyaya, kita sering bersembunyi di balik kata “tidak punya waktu luang”.
Padahal, kita sering lupa, kalau doomscrolling (scroll gadget tanpa tujuan), tanpa sadar sudah habis dua jam tidak menghasilkan apa-apa.

Ketika Anak-anak Sudah Mandiri

Dihitung ke belakang, saya lupa sendiri, sejak kapan sudah tidak disibukkan oleh anak-anak.
Mungkin sudah hampir 20 tahun, ternyata saya lebih banyak punya waktu untuk diri sendiri.
Artinya mulai usia 40 tahun akhir, baru deh merasa lebih santai, tidak harus full perhatian pernak-pernik urusan keluarga terutama anak-anak.

READ  Review Saviosa Hydra Glow Brightening Series Untuk Kulit Sehat

Saya termasuk tidak terlalu suka berkumpul dengan teman-teman, misalnya hang-out, ke mall, atau ngafe.
Paling sesekali, saya punya circle pertemanan kecil yang cuma berlima. Itupun sekarang berempat, karena salah seorang teman wafat mendadak.

Selebihnya saya lebih banyak menekuni hobi, antara lain: menjahit baju, membuat roti, main piano, bahkan ngeblog.
Menekuni hobi, saya jadi terkoneksi dengan diri sendiri.

Menjahit baju, terutama baju sendiri, saya jadi punya waktu mematut mana yang cocok dengan diri sendiri. Mempelajari model yang pantas, beli kain di toko kain langganan, atau cari benang dan asesoris yang sesuai. Bahkan sering juga, saya hanya jalan-jalan untuk lihat-lihat kain, belum membeli apapun.
Melakukan hal yang disukai untuk diri sendiri, membuat pikiran lebih santai dan rileks.

me time jalan-jalan ke toko kain

Bila kain yang dibeli sudah di tangan, biasanya sesampainya di rumah langsung saya rendam dan diangin-anginkan. Setelah kering, disetrika, barulah saya mengatur pola, pecah model, menggunting, lalu menjahit.

Ada kepuasan tersendiri bila baju buatan sendiri sudah selesai.

Penutup

Saya memahami keluhan ibu-ibu muda kerepotan dengan todler, antar-jemput anak sekolah, mengurus rumah, dan melayani kebutuhan suami. I’ve been there. Secara kiasan, saya pernah mengalaminya.

Saya pernah pakepuk kepikiran meninggalkan anak di rumah, karena dulu bekerja di luar rumah sebagai dosen di perguruan tinggi swasta. Pernah pusing juga anak susah makan, kemudian beranjak ketika anak ABG, kerjanya makan melulu.

Seiring waktu, ketika anak semakin besar akan mempunyai kesibukan sendiri, dan tidak tergantung pada orang tua (baca: ibunya). Ditambah lagi ketika anak-anak sudah menikah dan tidak tinggal serumah, saya harus mencari kesibukan baru yang bermanfaat. Memang ada benarnya, me time yang dulu sulit diperoleh, sekarang sepanjang hari me time.

Bagi saya, di usia paruh baya, malah lebih punya waktu terkoneksi dengan diri sendiri. Banyak yang saya amati, ada beberapa perempuan justru menempuh pendidikan lagi ketika anak-anak sudah mandiri.
Bisa menempuh pendidikan formal hingga mencapai gelar, tak sedikit yang menekuni hobi baru atau upgrade skill lainnya.

Saya sendiri baru mulai rajin ngeblog, ikut workshop penulisan bahkan menerbitkan buku solo ketika anak-anak sudah lulus sarjana.

admin

cumabelajar.com mengulas tentang belajar bisnis, fashion, gaya hidup, kuliner, properti, tips sederhana untuk keluarga, dan hal-hal baru yang mudah dipelajari.

Tinggalkan Balasan